Home Opini Mengingat Permainan Jadul; Bermain Yuk, Agar Bahagia

Mengingat Permainan Jadul; Bermain Yuk, Agar Bahagia

by Tuan Rumah AP

Kehidupan permainan memang sangat berkembang jauh, sangat jauh. Saat ini bermain tidak perlu kotor karena tanah, tidak perlu berkeringat karena lari jauh, apalagi sampai nafas ngos-ngosan. Saat kecil saya termasuk generasi yang gemar bermain, sampai mandi perlu diingatkan orang tua, apalagi ngaji sore harus ada peringatan tegas dari orang tua, kakak, dan tetangga ikut ramai bin cerewet mengingatkan pentingnya ngaji dan sholat berjamaah.

Aktivitas sekolah juga terkadang disempatkan dengan bermain ketika jam istirahat, tidak jarang teman perempuan selalu bawa alat mainnya sambugan karet gelang (Permaian; Karetan) dan teman laki selalu membawa bola kasti (permaianan; gelundug pataan) dan cara bermainnya dengan susunan pecahan genteng yang yang di rubuhkan dan di tumpuk selama permainan. Dulu kami selalu saja bermain tapi tentu tidak melupakan kewajiban belajar, sampai guru perlu mengingatkan jam habis waktu istirahat. Ah, tapi itu dulu ketika tanah masih dijadikan ruang bermain.

Beberapa permainan yang masih saya ingat adalah Jampangan (permainan grup atau kelompok. Bermain seperti permainan pedang tapi dengan tangan, harus bisa menyentuh kaki atau kepala lawan tentu boleh menangkis), Lebonan atau Bonbonan (Permainan grup atau kelompok. Bermain seperti perang mengejar dan menyentuh lawan untuk dijadikan tahanan dan menang ketika lari menembus garis lawan, bisa juga dikatakan benteng pertahanan), Slodoran (Permaian grup atau kelompok. Harus melewati garis yang dipasang penjaga), dan masih banyak lagi permaian menarik lainnya seperti tapuk kalengan, glundung pata, karetan, kelereng, glatikan, gambar, kasti, enggrang, petak umpet dan lain sebagainya. Yang pasti menarik dan pasti setiap permaian yang sama memiliki nama lain di setiap daerah.

Permaian zaman dulu perlu sikap secara kelompok yang baik, merancang strategi yang baik, memasang teman yang andal untuk dijadikan pertahanan atau melawan, dan memang perlu ketangkasan serta kelincahan kaki. Tapi terkadang memang ada protes antara lawan main karena dihadapkan dengan perbedaan kemampuan, tapi tetap bermain. Ah, menarik dan menghibur.

Dan permaian congklak adalah salah satu permainan yang yang memerlukan strategi mendekatkan kita pada latihan kejujuran. Karena induk lumbung yang banyak mengumpulkan biji congklak adalah pemenang.

Tapi bagaimana permainan zaman sekarang?

Saya bukan orang yang gampang menyimpulkan apalagi menganggap tidak menarik antara perbedaan permainan zaman sekarang dan zaman dulu, karena memang banyak berbeda masa dan tentu banyak perubahan. Dulu yang namanya sawah, hujan, sungai, dan lumpur masih dekat dengan dunia anak-anak namun sekarang bermain versi zaman sekarang cukup dengan gadget/gawai dan stik PS, yang menawarkan beragam kesenangan untuk ber-haha-hihi ramai-ramai alias bersama-sama tetap dengan menggunakan ketangkasan dan kegigihan tapi secara digital.

Bermainlah dengan cukup

Biar pun perbedaan permaian zaman dulu dan sekarang sangat jauh berbeda, tapi harus tetap menggunakan waktu untuk bermain dan jangan terlewat batas apalagi menghabiskan waktu berjam-jam sampai lupa waktu, karena bisa merugikan diri sendiri (pikirkan sendiri saja ya ruginya apa) karena saya menuliskan ini bukan untuk mencari kerugian tapi kebahagiaan dalam bermain.

Baiknya bermainlah secara kelompok agar bisa menerima atau melihat kekurangan dan perbedaan, bisa saling belajar. Oh ya Pak/Bu, bermain itu dunia anak-anak lho, biarkan mereka mengambil haknya sebagai anak-ana tapi tetap dalam pantauan Ibu/Bapak.

Bagaimana dengan kamu, apa permainan dulu dan sekarang yang disukai? Ayo bermain dengan bahagia

Salam; Tuan Rumah Ayo Pulang

You may also like

Leave a Comment