Home Opini Banjir Jakarta Urusan Siapa?

Banjir Jakarta Urusan Siapa?

by Tuan Rumah AP

Tentang Jakarta dan banjirnya, saya jadi teringat ketika menyambangi kontrakan teman baik saya yang sudah lama tidak bertemu. Tepatnya di Priuk, ketika sudah ngobrol ngalor ngidul dan bercerita tentang teman-teman lama mata saya melihat di sektitar rungan kamarnya ada papan-papan yang di sangga dengan siku tapi yang terlihat hanya beberapa tumpukan kardus rokok yang dilipat.

“Itu buat apa bro?” sambil tangan saya menunjuk papan-papan yang di siku di tembok

“Untuk antisipasi banjir, buat naroh barang-barang” jelasnya

“Kenapa tidak pindah kontrakan?”

“Disini yang deket dengan tempat kerja, males juga harus penyesuaian lingkungan lagi, kan disini udah hampir 10 Th”

“Oh”

Baiklah lupakan itu dulu, karena menuliskan itu hanya untuk mengawali tulisan banjir Jakarta yang kayaknya masalah banjir ini sudah menjadi pekerjaan rumah yang belum menemukan muara solusi yang pas untuk menanganinya, atau bahkan tidak ada solusi sama sekali, karena dari dulu hujan yang besar plus lama selalu berdampak banjir untuk Jakarta.

Dan parahnya banjir Jakarta sekarang bukan saja cuma genangan air yang diam, tapi banjir jakarta menghanyutkan mobil, menumbangkan motor, merendam rumah pemukiman dan melibas infrastruktur umum, dalam hal ini pemerintah ‘Pusat/DKI’ terlambat, dan disadari atau tidak mentalnya selalu bereaksi ketika sudah terjadi bukan antisipasi dengan membuat solusi jauh-jauh hari.

Dari hulu ke hilir, jakarta secara geografis terletak di hilir, wilayah jakarta bertipe dataran rendah yang dianugrahi banyak sungai yang artinya Jakarta sedari awal adalah tanah yang berair dan banyak rawa-rawa juga sungai. Sedangankan Bogor adalah hulu yang berdataran tinggi jadi kesimpulannya banjir Jakarta adalah air mengalir dari dataran tinggi ke dataran rendah, dianggap kiriman tanpa perlu ada pemesan.

Sesederhana itu kah sebab jakarta mengalami banjir? Tidak juga sih

Alasan klasiknya adalah alam dan faktor dominan terjadinya banjir adalah air, dikarenakan curah hujan yang tinggi sehingga volume air meningkat yang sama-sama kita tahu akibatnya adalah banjir. Tapi apakah air juga faktor tunggal atas masalah itu sendiri? Hukum kausalitas atas banjir itu sendiri bagaimana?

Kalau kita tarik jauh kebelakang potret geografis jakarta yang tempatnya air ‘rawa dan sungai’ idealnya banyak pepohonan besar untuk menjaga ekosistem alam, dengan begitu air akan dengan sendirinya terserap ke akar pohon untuk mengurangi genangan air. Tapi apa mau dikata pembetonan besar-besaran terjadi di daerah yang seharusnya jadi resapan malah di jadikan hunian rumah-rumah dan villa mewah

Lalu permasalah lainnya adalah sebab sungai tidak dapat menampung air dengan jumlah yang besar itu karena sampah yang banyak, mampet tidak cepat diatasi, menumpuk yang mengakibatkan pendangkalan pada sungai, yang seharunya permasalahan sampah bukan saja harus di lakukan oleh pemerintah ‘Pusat/Daerah’ tapi harus sudah menjadi kesadaran kolektif antara masyarakat dan pemerintah kalau mau menangani banjir.

Tapi apalah daya wajah politik menutupi kesadaran untuk melakukan itu semua, yang terjadi adalah silang pendapat antara Gubernur, Menteri PUPR, Presiden dan Mantan Gubernur membuat bingung masyarakat, sehingga masyarakat dihadapkan pada hidup yang sudah demikian rumit, ditambah janji politik pun memperkeruh suasana hingga media sosial ikut banjir dengan nada anis yang tidak becus kerja.

Yang seharusnya persoalan banjir jakarta ini urusan siapa?

Dan kalau boleh jujur suka atau tidak suka, saya juga termasuk masyarakat yang pernah menjadi penduduk Jakarta tidak tahu kenapa tidak begitu suka dengan cara Anis Baswedan yang lebih banyak menarasikan masalah daripada melakukan langkah-langkah, ngomongnya kalem tapi tidak enak untuk di dengar.

Salam AP; dari Penduduk sementara Jakarta

You may also like

Leave a Comment