Home Opini Netizen Salah Tembakan ‘Hujatan’

Netizen Salah Tembakan ‘Hujatan’

by Tuan Rumah AP

Banyak netizen mengingatkan ke kegarangan prabowo soal harga diri mempertahankan bangsa, saya pun tercengang dengan gebrakan meja yang dilakukan prabowo kala itu, sekilas terlihat begitu semanagat dan emosionalnya prabowo untuk mengingatkan seluruh elemen masyarakat terkait kebangsaan. “Saya lebih TNI dari TNI” kira-kira kutipan itulah yang sering dilempar netizen untuk mengingatkan Prabowo, tapi sayang beribu sayang masyarakat netizen dibuat kecewa dengan sikap ‘cool’ Prabowo atas perairan Natuna

Terkait dengan sikap lembeknya Prabowo soal perairan natuna, ramai-ramai memberikan komentar soal kemana semangat dan gebrakan meja Prabowo ‘kampanye’? Prabowo dan barisannya lupa kalau masyarakat +62 selalu ingat sejarah, yang nyatanya Prabowo hanyalah ‘ayam sayur’ alias tidak bisa apa-apa dan banyak juga yang nyinyir mempertanyakan kemana ke Macan Asia-an Prabowo kok ternyata hanya kucing oren?

Okelah atas kelembekan Prabowo saat ini skip langsung, sangat disayangkan sih harusnya Prabowo jangan memberikan komentar langsung dengan ‘cool’ atau memberikan komentar langsung bahwa China adalah Negara sahabat seperti tidak tahu netizen +62, idealnya dengan bahasa tunggu intruksi Pak Jokowi selaku Presiden. Karena perlu diingat tidak ada visi-misi menteri, semua visi-misi menteri adalah estafet dari visi-misi Presiden.

Salah tembak ‘hujatan’

Logika saya masih dalam posisi maklum terkait Prabowo yang di cecar netizen karena kelembekannya, pertama karena keberadaan Prabowo di kabinet Presiden Jokowi bukan dari rahim partai yang mendukung bahkan justru rival, yang kedua karena masyarakat +62 berharap lebih dengan keberadaannya Prabowo di kementrian ‘Menhan’ yang sudah menjadi keahliannya, yang harusnya bersikap seperti macan Asia dong. Atas dasar dua itu jadi tidak mengherankan jika netizen salah fokus.

Oh ya saya menuliskan ini bukan berarti saya menyudutkan secara pribadi kepada Jokowi sebagai Presiden RI atau kepada Prabowo sebagai Menhan, keduanya saya hormati dan banggakan karena rela melepaskan ego untuk kepentingan yang lebih besar.

Kehadiran Prabowo di dalam kementrian Presiden Jokowi sedikit menyejukkan suhu politik dan sayangnya hanya bersifat sementara kini justru kembali menguap karena komentarnya persoalan Natuna, taring macan tidak menjadi tajam, hanya jadi paruh ayam sayur. Itu framing yang terjadi.

Tapi perlu diingat bersama bahwa menteri pertahanan tidak memiliki otoritas untuk mengerahkan pasukan atau bahkan memberikan statmen politik berperang, karena prinsip kewenangan dan tanggung jawab pengerahan kekuatan TNI berada pada Presiden setelah mendapatkan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Republik  Indonesia (DPR RI) yang selanjutnya  tanggung jawab penggunaan kekuatan TNI berada pada Panglima TNI. Dan Menteri Pertahanan mengurus administratif yang nenunjang atau mendukung setiap keputusan pimpinan eksekutif dan legislatif Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Begitupun dengan sikap Presiden keputusan untuk menempatkan pasukan bukanlah hal mudah atau sederhana, dengan menempatkan pasukan artinya telah siap dengan berbagai resiko, termasuk  keselamatan Bangsa Indonesia sebagai unsur terpenting dari negara dan rakyat.

Presiden juga bukan karena takut dengan sikapnya yang ditunjukkan ke publik, bahwa China hanya melewati Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE), tentu sikap Presiden untuk mempertimbangkan ekses politik juga ekses ketahanan yang tentu agar tidak terjadi hal yang merugikan pada rakyatnya.

Maaf sebelum menutup tulisan ini, bukan maksud ingin membenarkan atau menyalahkan langkah politik hingga membentuk kebencian kepada Prabowo sebagai Menhan atau Jokowi sebagai Presiden RI, karena kalau sudah berbicara kebangsaan dan kesatuan Indonesia adalah kesatuan semuanya berharap tanpa dikotak-kotakkan.

Ingat perang bukan permainan yang hanya dimainkan satu atau dua orang tentu akan melibatkan rakyatnya. Dan perang bukan wilayah politiknya Prabowo sebagai Menhan.

Salam; AP

You may also like

Leave a Comment