Home Opini Pentingnya Pendidikan Karakter sebagai Bangsa

Pentingnya Pendidikan Karakter sebagai Bangsa

by Tuan Rumah AP

Pada pemerintahan Presiden Jokowi yang ke dua, kita mempunyai seorang menteri P & K yang mempunyai gagasan perubahan dan pembaharuan pendidikan yang fenomenal kedepan. Menteri berusia paling muda di kabinet Jokowi jilid dua, Nadiem Makarim. Membawa semanagat pola pikir melenial dalam mengadopsi dan mengakomodasi kepesatan kemajuan teknologi digital dewasa ini, sebagai wahana penididikan. Namun ternyata ia bahkan semakin mengusung dan menjulang tinggikan pendidikan karakter ( character building), moral dan ahlak manusia.

Sesuai dengan garis haluan negara, berdasarkan Pancasila, UUD ’45, NKRI dan Kebhinekaan Bangsa. Bahkan karena tergiur dengan oleh keasyikan menggunakan teknologi canggih sebagai sarana atau alat kemudahan berkarya. Lantas melupakan atas ajaran pendidikan yang maha utama. Yaitu mengenalkan karakter kebangsaan, seperti yang disebutkan diatas.

Nah, untuk itu saya teringat akan komentar setatus seorang kawan di facebook. Sekitar 3 tahun lalu, lewat tulisan tertanggal 10 Januari 2017, seperti yang akan saya tuliskan di bawah ini;

“Bahwa, betapapun kami bukan ahlinya menyangkut masalah pendidikan. Tapi sebagai orang tua yang bertanggung jawab mengarahkan pendidikan anaknya”

Di dalam status kawan saya itu ia menuliskan dialognya tentang masalah mata pelajaran Sejarah. Sebagai orang tua denga dua anak perempuan yang sudah SMA. Di rumahnya, sebagai orang tua mempunyai kepedulian membantu dan mengarahkan kedua anaknya lebih bebas secara kritis dan kreaif dalam mempelajari sejarah. Sekali lagi sejarah! Ini penting, seperti kutipan orang tua atas ajaran pemikian Bur Karno dalam “Jas Merah” yang bermakna jangan sekali-sekali melupakan sejarah, dengan begitulah orang tua itu menjelaskan dengan tekanan mengingatkan kepada kedua anaknya.

Karena dengan kaitan sistem kurikulum pendidikan di sekolah-sekolah sekarang, masih belum lepas dari berbagai persoalan yang menjadi tantangan pendidikan secara komprehensif. Diantaranya adalah perkembangan laju teknologi era globalisasi sekarang ini, peran teknologi, informasi dan komunikasi begitu dominan merasuki image siswa, tanpa kontrol yang memadai baik dari pihak sekolah atau guru di sekolah dan orang tua di rumah.

Semua ilmu itu penting dan baik, dengan banyaknya peminat yang lebih memilih keilmuan yang eksakta dan kedokteran medis sebagai jurusan pilihan yang paling di gandrungi, daripada ilmu sosial lainnya. Sebenarnya ilmu sosial tidak kalah penting, terutama sejarah sebagai konsumsi moral bangsa yang harus dimiliki secara mendasar kurang begitu mendapat perhatian, bahkan lebih banyak yang lupa.

Gejala ini lambat laun akan menguap, dan menonjol di kalangan anak didik sekarang yang lupa akan sejarah, untuk mengikuti perkembangan keterampilan menggunakan gawai/android. Anak melenial sekarang lebih melek daripada orang tuanya yang gaptek, tapi apakah anak didik sekarang siap dengan pertanyaan perihal sejarah tokoh bangsa dan perkembangan masyarakat pada bangsanya? Mereka kebanyakan kedodoran dan planga-plongo tidak tahu harus menjawab apa. Padahal betapa penting menanamkan kesadaran moral dan sejarah pada siswa.

Yang mesti diingat dan harus saling mengingatkan itu, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki nilai bobot rekam jejak sejarahnya, serta menghormati dan menghargai para pahlawan bangsanya sendiri.

Dan mempunyai keahlian ‘skill’ memang penting, tapi yang lebih penting lagi mempunyai keahlian juga mempunyai jati-diri ‘identitas’ atau kepribadian bangsa, sebagai cermin karakteristik jiwa nasionalisme yang diwakilinya, diantara pergaulan bangsa-bangsa secara universal.

Salam; Misbach Tamrin

Perupa, Sanggar Bumi Tarung

You may also like

Leave a Comment